Senin, 13 April 2009

Me, Mr Right n' The Netherlands



Saat ini saya sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang sedang menjalani studi di Belanda (maap yah jadi tutup lowongan^^), sebut aja dia Mr. Right. Nah, Mr. Right ini saat menjalin hubungan dengan saya dua tahun sepuluh bulan yang lalu (detail banget ya :P) mendapat tawaran beasiswa. Saat dia menyatakan cinta dan diterima, eits...ternyata dia langsung mengungkapkan niatannya untuk menerima beasiswa di negeri kincir angin tersebut. Alhasil dengan berat hati, saya relakan kepergian dia demi masa depan kami (doakan ya^^).

Mr. Right merupakan sarjana s1 kedokteran dari sebuah universitas negeri di Jakarta. Saat itu (masih sampai sekarang), dia juga sudah menjadi Staff di bagian Parasitologi, dari universitas negeri tersebut. Kebetulan dia juga cukup aktif berorganisasi ketika kuliah. Dan pastinya dia punya bekal bahasa Inggris yang OK (pastinya lebih pinter dari saya). Dia kemudian pada suatu siang ditanya oleh atasannya “Mr. Right, kamu mau melanjutkan kuliah ke Belanda?”. Hmm...tawaran yang menggiurkan ya..?! Kalau saya yang ditanya sih, saya pasti bilang mau banget.

Ternyata dengan kalem dia masih tersenyum dan belum memberikan jawaban (sigh...narik napas juga nih saya), kemudian dia baru menjawab tawaran tersebut setelah peresmian hubungan kami, tentunya dengan jawaban “Iya, dok. Mengenai tawaran waktu itu....saya bersedia-mungkin kurang lebihnya seperti itu).”

Saat ini Mr. Right juga masih berkuliah disana, kemungkinan hingga tahun 2011, mengingat dia belajar untuk menjadi seorang PhD, beruntungnya dia studi dengan melakukan riset di daerah NTT, Indonesia (masih satu negaralah ya..?!). Saya cukup beruntung karena selama dua tahun menuju tiga tahun ini masih memiliki waktu bersama-sama. Saya juga beruntung karena setiap pulang mendapat oleh-oleh dan cerita dari Belanda.

Mr. Right banyak bercerita tentang Belanda, tentang gaya hidup orang Belanda yang ramah dan welcome pada siapa saja, tentang budaya bersepeda mereka ataupun berjalan kaki (dia juga memperingatkan kalau saya ke Belanda untuk melanjutkan studi, saya harus ekstra hati-hati mengunci sepeda saya-disana angka pencurian sepeda sangatlah tinggi!), tentang jenis-jenis makanan sehari-hari dia (yang pastinya adalah susu dan roti-yang terjangkau dan cukup mengenyangkan), juga makanan lainnya seperti yang ada di Indonesia (disana juga banyak sekali restoran Indonesia-hanya sepertinya tidak ada yang menjual mpek-mpek, karena dia selalu ngidam mpek-mpek ketika pulang), lalu juga membahas tempat tinggal disana (mulai dari kamar kos hingga apartemen, harganya pun relatif mulai dari 100 Euro hingga 1700an sekian Euro), lalu juga budaya kerja mereka (orang Belanda rata-rata memiliki disiplin yang tinggi sehingga waktu bersosialisasi tidak dicampur dengan waktu kerja) yang jauh berbeda dengan orang kita.



Mr. Right juga bercerita tentang banyaknya program internasional yang menggunakan Inggris sebagai bahasa pengantarnya, yaitu berjumlah 1.376 dari 1.391 program internasional (bayangkan loh seribu tiga ratus lebih....wow banyak sekali ya program berbahasa Inggrisnya).
Saya juga sudah pernah memberikan link pada blog sebelumnya:
http://www.nuffic.nl/international-students/dutch-higher-education/search-international-study-programmes/ispac_search_form

Mr. Right juga bercerita bahwa sesekali dia pun mengunjungi Jerman, Perancis dan negara-negara tetangga yang lain dengan teman-temannya (wah mupeng nih pas denger ceritanya...), saat itu dia menggunakan visa Schengen sehingga bisa travelling ke negara-negara lain.



Mr. Right saat ini sudah mulai belajar bahasa Belanda (dutch), mengingat lama-kelamaan dia tertarik juga menyapa orang Belanda dengan bahasa asal mereka. Mr. Right juga menceritakan banyaknya orang Indonesia yang bersekolah di Belanda, tidak hanya untuk S1 atau bachelor, tetapi juga master dan PhD, baik dari beasiswa maupun biaya sendiri. Disana juga ada komunitas orang Indonesia, sehingga dia juga banyak teman-teman seperjuangan dari Indonesia, dia juga masih aktif ikut kegiatan keagamaan (tentunya dalam bahasa Inggris).

Hmm...mendengar kisah ini kalian juga pasti ingin melanjutkan studi disana kan? Ga usah takut untuk meninggalkan pasangan tercinta, karena walaupun LDR (long distance relationship) itu berat tapi kalau kalian usaha, pasti bisa bertahan dengan pengertian dan kepercayaan dari kedua belah pihak. Saya juga ingin menyusul Mr. Right nih, saya juga sudah tes IELTS, sayangnya mungkin saya belum bisa melanjutkan tahun ini, doakan ya supaya tahun depan saya bisa kesana sehingga bisa sekolah dan sesekali pergi keluar dengan Mr. Right di Belanda, tentunya setelah saya lulus sidang pada bulan Juni dan diwisuda Desember tahun 2009 ini. Mudah-mudahan cerita ini berguna ya teman-teman^^

Note : tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetiblog
Sumber foto : Koleksi pribadi
Kategori : non wartawan

3 komentar:

  1. nice story, right?

    BalasHapus
  2. berasa berat banget nih ldr.. tapi ngeliat tulisan ini jadi kembali bersemangat..
    great inspiration.

    BalasHapus

“My motto"


I made this widget at MyFlashFetish.com.